Seperti sayap elang yang patah.
Terluka, tapi tetap keras kepala untuk mengepak.
Masih banyak cita-cita yang mau dia jelajahi.
Bukan karena satu sayap patah lalu dia berhenti untuk terbang.
Teringat semangat masa kecil ku.
Aku ingin ini, ingin itu, pergi kesana, pergi kesini.
Tuhan, boleh aku merasakan itu lagi?
Digendong ayah, dipeluk ibu, diciumi
tanpa beban di atas pundakku sebagai manusia dewasa.
Aku ingin bisa membaca buku tanpa gangguan notifikasi
dari telepon pintarku yang terpaksa untuk segera dibalas.
Aku ingin mercengkrama dengaan ibu, ayah,
tanpa harus terbayang pekerjaan yang belum juga selesai.
